Ab jetzt sind wir Elev8
Wir sind mehr als nur ein Broker. Wir sind ein All-in-One-Trading-Ökosystem – alles, was Sie zum analisieren, traden und wachsen brauchen, ist an einem Ort. Sind sie bereit, Ihr Trading zu verbessern?
Wir sind mehr als nur ein Broker. Wir sind ein All-in-One-Trading-Ökosystem – alles, was Sie zum analisieren, traden und wachsen brauchen, ist an einem Ort. Sind sie bereit, Ihr Trading zu verbessern?
Arah rupiah kali ini tidak lagi sekadar melemah – melainkan memasuki fase baru tanpa referensi historis. Pada perdagangan Jumat di akhir sesi Asia, pasangan mata uang USD/IDR naik 80 poin ke Rp17.110 (+0,47%), melanjutkan tren depresiasi setelah level psikologis 17.000 ditembus dan kini berubah menjadi pijakan baru pasar.
Meski dolar AS mulai kehilangan momentum di area puncaknya, kekuatan relatifnya tetap menjaga tekanan terhadap rupiah. Bersamaan dengan itu, ketidakpastian global dan harga energi yang masih tinggi terus membangun permintaan terhadap aset safe haven, membuat ruang pemulihan rupiah masih terbatas.
Dari dalam negeri, sinyal perlambatan mulai terlihat lebih jelas. Indeks Keyakinan Konsumen turun ke 122,9 dari 125,2, sementara penjualan mobil terkontraksi tajam -13,8% secara tahunan. Kombinasi ini mengindikasikan bahwa konsumsi – yang selama ini menjadi mesin utama pertumbuhan – mulai kehilangan daya dorong.
Tekanan tersebut tercermin dalam revisi proyeksi. Bank Dunia memangkas outlook pertumbuhan Indonesia menjadi 4,7% untuk 2026 dari sebelumnya 4,8%. Menanggapi hal ini, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai proyeksi tersebut terlalu pesimistis dan belum sepenuhnya mencerminkan kondisi aktual, dengan keyakinan bahwa stabilisasi harga energi dapat membuka ruang perbaikan ke depan.
Harga minyak bergerak fluktuatif dan terkoreksi ke kisaran USD91 per barel setelah dalam beberapa sesi sebelumnya sempat menembus USD100, mencerminkan meredanya sebagian kekhawatiran pasca gencatan senjata sementara AS-Iran. Namun, gangguan pasokan dari Arab Saudi dan terbatasnya lalu lintas di Selat Hormuz masih menjaga premi risiko tetap tinggi, menahan pasar dalam fase konsolidasi.
Pelaku pasar kini menunggu hasil negosiasi lanjutan antara AS dan Iran yang dijadwalkan berlangsung di Pakistan hari Sabtu. Ketegangan baru berpotensi kembali mendorong harga energi, sementara kemajuan diplomatik dapat memperpanjang fase koreksi. Dengan kata lain, arah minyak – dan pada akhirnya inflasi global – masih sangat ditentukan oleh dinamika geopolitik yang belum sepenuhnya mereda.
Data ekonomi AS menunjukkan gambaran beragam. Inflasi PCE naik 0,4% (bulanan) dan 2,8% (tahunan), dengan inti stabil di 0,4% dan 3,0%, sementara belanja konsumen tumbuh 0,5%, mencerminkan daya beli yang masih solid.
Namun, tanda perlambatan mulai terlihat. Pendapatan pribadi turun 0,1%, PDB direvisi ke 0,5% (annualized), dan klaim pengangguran mencapai 219 ribu, mengindikasikan momentum ekonomi mulai melemah di beberapa sektor.
Pasar kini berhati-hati sambil menanti data inflasi IHK Maret dan survei sentimen konsumen. Hasilnya akan menjadi kunci dalam membentuk ulang ekspektasi kebijakan The Fed – yang pada akhirnya menentukan apakah tekanan terhadap rupiah akan berlanjut atau mulai mereda.
Dalam kondisi tanpa batas historis, pergerakan rupiah kini lebih banyak ditentukan oleh bagaimana pasar menyusun ulang ekspektasi terhadap inflasi global, kebijakan moneter AS, serta stabilitas geopolitik.
Kekuatan tren berikutnya akan sangat ditentukan oleh apakah tekanan energi mereda secara bertahap – atau justru kembali menguat dan memperpanjang dominasi dolar dalam waktu yang lebih lama.
Kecenderungan inflasi atau deflasi diukur dengan menjumlahkan harga sekeranjang barang dan jasa secara berkala dan menyajikan datanya sebagai Indeks Harga Konsumen (IHK). Data IHK dikumpulkan setiap bulan dan dirilis oleh Departemen Statistik Tenaga Kerja AS. Laporan bulanan ini membandingkan harga barang-barang pada bulan referensi dengan bulan sebelumnya. IHK Tidak termasuk Makanan & Energi tidak menyertakan komponen makanan dan energi yang lebih fluktuatif untuk memberikan pengukuran tekanan harga yang lebih akurat. Secara umum, angka yang tinggi dipandang sebagai bullish bagi Dolar AS (USD), sedangkan angka yang rendah dianggap sebagai bearish.
Baca lebih lanjutRilis berikutnya Jum Apr 10, 2026 12.30
Frekuensi: Bulanan
Konsensus: 3.3%
Sebelumnya: 2.4%
Sumber: US Bureau of Labor Statistics
Federal Reserve AS (The Fed) memiliki mandat ganda untuk menjaga stabilitas harga dan lapangan kerja maksimum. Menurut mandat tersebut, inflasi seharusnya berada di sekitar 2% YoY dan telah menjadi pilar terlemah dari arahan bank sentral sejak dunia mengalami pandemi, yang berlanjut hingga saat ini. Tekanan harga terus meningkat di tengah masalah rantai pasokan dan kemacetan, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) bertahan di level tertinggi multi-dekade. The Fed telah mengambil langkah-langkah untuk mengekang inflasi dan diprakirakan akan mempertahankan sikap agresif di masa mendatang.